BURGERKILL Final Regional Bandung L.A. Light Indiefest

August 21st, 2008 by vhy-potter

Final Regional Bandung L.A. Light Indiefest


Beberapa foto dari Final Regional Bandung L.A. Light Indiefest di Sabuga, Senin 18 Agustus kemarin.
Continue reading ‘Final Regional Bandung L.A. Light Indiefest’

L.A. Light Indiefest final regional Surabaya


Beberapa foto yang diambil saat Burgerkill, Seringai dan Quartet Minerva berkolaborasi di Final Regional L.A. Light Indiefest 2008 di Surabaya pada 15 Agustus kemarin.
Continue reading ‘L.A. Light Indiefest final regional Surabaya’

Myself, Scumbag - Kimung

1_314712026l Myself, Scumbag: Beyond Life and Death
Kimung
Minor Books 2007

Saya rasa sebagian besar dari kamu tentunya sudah membeli buku ini, walaupun mungkin sebagian besar belum dibaca. Bagi kamu yang belum punya, buku ini adalah buku wajib yang mencatat sebuah fragmen sejarah perkembangan musik underground di Ujungberung, Bandung. Buku ini bahkan adalah salah satu buku-buku pertama yang berhasil mendokumentasikan sebuah kebudayaan subkultur modern lokal, more to come, I hope.

Sosok yang mengikat dan menjiwai dalam buku ini adalah Ivan Firmansyah, atau lebih dikenal dengan Ivan Scumbag, vokalis dari band hardcore-metal yang legedaris di scene underground lokal, Burgerkill. Seperti yang diakui oleh penulisnya, Kimung, seorang teman dekat dan sesama pendiri Burgerkill, membuat biografi ini berarti juga menuliskan sejarah perkembangan musik underground lokal di Ujungberung dan Bandung serta sejarah Burgerkill, dimana Ivan berkarir sampai pada akhir hayatnya.

Suasana kemuraman dan emosional dari penulis, para karakter yang terlibat serta Ivan sendiri dapat tercermin dengan jelas sampai akhir buku ini, membuat kita merasakan kedekatan dan ikatan kepada Ivan dan bandnya Burgerkill. Segudang cerita dari sosok tersebut, dari kehidupan pribadinya, kehidupan cintanya, perjuangannya, dan kecintaannya terhadap musik sebagai hidupnya termuat secara mendetail dan lengkap di dalam buku ini. Sangat padat malahan, sehingga seringkali terasa melelahkan, padahal mungkin cerita-cerita tersebut dapat distrukturkan ke dalam bagian-bagian yang lebih singkat.

Buku ini juga dengan baik menceritakan kejadian-kejadian sebenarnya di belakang Burgerkill yang tercemar dengan mitos dan gosip underground. Kelebihan lain dalam buku ini adalah kejujuran dimana drugs, sebuah aspek yang lekat dengan Ivan dipaparkan dengan gamblang, an inconvinient truth bagi kamu yang berada di sisi lain, dan mungkin tulisan “Based on true story” tidak perlu ada di cover, karena ini memang biografi sesungguhnya.

Harus diakui memang biografi ini bukanlah biografi yang inspiratif ataupun manipulatif, tetapi biografi ini membantu kita untuk lebih mengerti sebuah kondisi yang ada di masyarakat kita, di scene underground, yang sayangnya sering kali diacuhkan oleh publik awam.

Mengingat bahwa buku ini sangat erat dengan musik, mungkin akan lebih baik jika memang ada rekaman lagu-lagu yang dideskripsikan di buku ini, lebih kontekstual daripada “songlit” yang ada di rak bacaan dewasa muda di toko buku besar. Saya sangat mengharapkan agar ini dapat terwujud, mungkin dalam bentuk mix-tape atau semacamnya, dan saya yakin hal seperti ini sangat bisa diusahakan.

Overall, buku ini menyadarkan betapa dekat dan besarnya pengaruh Ivan di kalangan pelaku scene underground Bandung khususnya, dan semoga buku ini dapat memacu hasil-hasil yang produktif di masa depan.

Ryan Koesuma, Deathrockstar.info - November 2007

website Burgerkill

burgerkill_excerpts
Website Burgerkill sudah online kembali di alamat www.burgerkillofficial.com. Namun walaupun sudah online kembali, tampaknya sang webmaster belum kembali online karena berita terakhir yang beredar disitu adalah posting mengenai konfirmasi bahwa Burgerkill akan menjadi opening Black Dahlia Murder.

Mungkin untuk sementara para begundal penggemar Burgerkill dapat saling berhubungan melalui fitur Guestbook di website itu. atau lebih baik mengakses http://www.myspace.com/burgerkillofficial yang tampaknya lebih update.

Sementara itu kamu bisa baca-baca buku berjudul Myself, Scumbag: Beyond Life and Death karangan Kimung yang diterbitkan oleh Minor Books 2007. Sebuah buku mengenai Ivan Scumbag (r.i.p.) mantan vokalis Burgerkill yang juga merupakan tokoh penting di scene underground Indonesia

SERINGAI Final Regional Bandung L.A. Light Indiefest

August 21st, 2008 by vhy-potter

Final Regional Bandung L.A. Light Indiefest


Beberapa foto dari Final Regional Bandung L.A. Light Indiefest di Sabuga, Senin 18 Agustus kemarin.










Brandalisme - The Brandals

August 21st, 2008 by vhy-potter

Brandalisme - The Brandals

kovers_theBrandals_brandalisme
The Brandals
Brandalisme
Aksara Records (2007)
6.9

Sebuah band rock yang tetap menyuarakan suara kaum urban, dengan segala kehidupan nya yang keras dan bercampur asap knalpot jalanan. Suara orang-orang kelelahan dalam menghadapi kerasanya hukum rimba perkotaan dimana yang kaya selalu menang sementara yang miskin masih saja berkutat dalam kebingungan mencari sesuap nasi hari ini.

Mendengarkan album rock (yang seharusnya) enerjik ini menipiskan batas antara pendewasaan, monotonitas, kebosanan dan kelelahan. Mereka menjadi seperti rocker-rocker kelelahan yang tertekan pekerjaan sehari-hari dan dikejar waktu jadwal rekaman sementara deadline kerjaan sampingan sudah memanggil.

Namun begitu dengan sisa-sisa energi yang terkuras itu, mereka tetap berusaha menghibur kita dengan anthem seperti ‘100% kontrol’ dan ‘Brokenheart Blues’ yang ringan dan mudah dicerna, dengan lirik-lirik penghiburan supaya tidak menunda-nunda dan patah hati.Lagu-lagu lainnya terus berusaha memberikan energi rock n roll kasar dengan sedikit sentuhan rockabilly dan usaha keagresifan punkrock.

Akhir kata, album ini untuk kaum urban yang kelelahan menghadapi kerasnya kehidupan ditengah himpitan bau keringat bis kota dan debu jalanan. Saya berharap energi mereka yang seperti akan habis itu segera kembali penuh jika menghibur kita lagi di panggung

The Brandals

kover_theBrandals_brandalisme_001
Album ketiga ini akhirnya telah dirilis dan beredar di berbagai toko kaset dengan label Aksara Records. Berikut ini wawancara singkat dan cepat dengan Eka Annash sang vokalis.

1. Apa kabar The Brandals sekarang?
Baik. Lagi sibuk keliling promo media untuk full album ke-3 Brandalisme

2. Sewaktu review media menyatakan musik Brandals menjadi lebih dewasa. Menurut The Brandals sendiri, apa itu arti pendewasaan dalam bermusik?
Not giving any shit on what other people thought about you or your music.

3. Dengan musik kalian, apa sebenarnya yang kalian lawan dan memberontak
dari apa? dan sejauh ini dari pengamatan The Brandals bagaimana hasil perjuangan tersebut?
Berontak? Ngamuk? Marah2?..We over it, mate. Leave it up to the youngerbands that you guys at DRS so fond of…hehehe

4. Apa yang lagi ada di playlist kalian saat ini?
Suicide-s/t
Pussy Galore - Dial M for Motherfucker
Fariz RM - Selangkah ke Seberang

5. Ada rekomendasi lagu/band oke dari The Brandals untuk pembaca?
Frankie Teardrop -Suicide/ Mencharter Rocket - Duo Kribo/ Komboi - Iannis Xenakis
Lucky Annash (The youngest of the Annash family legacy. Check him out live. Hypnotic, jawdropping, profoundly poetic stuff. Also click to his myspace site : www.myspace.com/luckyannashmusic)

6. last word?
Whatever…

berikut ini preview video klip 100% Kontrol, sutradara oleh Andri Lemes

Photos : The Brandals @ Lapas Tanggerang

Foto=foto yang diambil saat show The Brandals di Lapas Tanggerang pada tanggal 22 November 2007 lalu. Semua foto di shoot oleh Soleh Solihun.

brandals_speak86

brandals_crowd

brandals_band

brandals_eka_02

brandals_eka

Album terbaru dari The Brandals segera rilis

DRS - BRANDALS Album terbaru dari The Brandals ini akan berjudul “Brandalisme” diambil dari terminologi yang berasal dari meluasnya gerakan reaksi tolak balik yang menyikapi pesatnya invasi lingkungan ruang publik oleh logo korporat, iklan dan merek (brand). Tindakan termasuk merekonstruksi, mengatur kembali dan bahkan menghapus/menghancurkan logo korporasi tersebut yang terpampang di ruang publik (brand+vandalism). Untuk menuntut kembali identitas visual yang pada awalnya milik publik dan komunitasnya.

Lebih lanjutnya dapat artikel dari press release yang diterbitkan oleh Aksara Records label mereka.

“BRANDALISME”

Terminologi Brandalisme: berasal dari meluasnya gerakan reaksi tolak balik yang menyikapi pesatnya invasi lingkungan ruang publik oleh logo korporat, iklan dan merek (brand). Tindakan termasuk merekonstruksi, mengatur kembali dan bahkan menghapus/menghancurkan logo korporasi tersebut yang terpampang di ruang publik (brand+vandalism). Untuk menuntut kembali identitas visual yang pada awalnya milik publik dan komunitasnya.

The Brandals sebagai unit dalam bidang musik, beroperasi dengan prinsipil reaksi tolak balik yang sama terhadap system industri musik kita. Reaksi ini terekspresi pada tajuk album ke-tiganya, dimana mereka mengadopsi terminologi Brandalisme. Walaupun tidak mengedepankan isu politik pada agenda mereka, terminologi ini berlaku hanya untuk sudut artistik dan prakteknya, daripada statement politik itu sendiri. Tapi, the Brandals berharap untuk menyebarkan prinsip dan efeknya untuk pendengar setia mereka. Pesannya sangat jelas, untuk selalu merencanakan, bertindak dan mengevaluasi semua perbuatan secara independen tanpa intervensi besar dari pihak lain. Selalu mengatasi masalah dan resiko di tangan sendiri.

Terminasi kata ‘Brandalisme’ juga teraplikasi pada pengembangan dari musikalitasnya. The Brandals terus berevolusi sampai di titik dimana pada akhirnya mereka menemukan karakterisasi yang sangat spesifik dari sound The Brandals pada album kali ini. Perpaduan antara blues sways, punk rock stomps, dan rockabilly rolls adalah bukti akurat sejak debut album pertama. Tapi pada album ketiga ini the Brandals melebar ke teritori lain yang belum pernah dijamah sebelumnya. Elaborasi peleburan elemen lain yang bisa dirangkum sebagai ‘The Brandals sound’. Karenanya, album ini diberi judul Brandalisme.

Secara general yang membedakan album Brandalisme ini dengan yang sebelumnya adalah adanya kehadiran rasa tanggung jawab terhadap apa yang mereka berusaha ekspresikan dan bagi pada khalayak selama ini. Sebuah ciri khas kedewasaan yang terkesan klise tetapi memang tidak bisa dipungkiri. Semua ini hadir tanpa meninggalkan citra the Brandals yang selama ini telah terbangun. Pemberontakan atau perlawanan yang hadir tampak lebih composed, lebih dewasa. Seperti pemberontakan terhadap apatisme dan ingin membuat perubahan secara positif terhadap lingkungan. Mereka berusaha mengajak pendengarnya untuk lebih perduli dan sadar diri.

Sejak tahun 2005 lalu the Brandals diminta oleh yayasan AIDS, YAIDS, untuk menjadi corong mereka dengan melakukan kampanye demi kepekaan anak muda untuk penyakit tersebut. Pada tahun yang sama the Brandals juga diminta oleh organisasi internasional WWF (World Wildlife Fund) untuk menjadi duta organisasi yang memberikan pendanaan sosial ini. Hal tersebut juga menjadi semacam pengakuan yang signifikan terhadap sebuah band yang ternyata tak hanya prima dalam performa tetapi juga sanggup menjadi wakil untuk menyuarakan pesan-pesan penting kepada masyarakat urban, terutama kepada pemuda di tanah air.

Sejauh ini demikian lah yang ditawarkan oleh the Brandals. Sound yang mungkin akan diinterpretasi, kategorisasi dan direview sebagai album yang buruk atau bagus bagi pendengar (ataupun oleh media). Sejujurnya, untuk keuntungan mereka, hal terakhir yang mereka khawatirkan adalah kritik dan hal yang ada di atas. Inilah apa yang tercurah dari hati mereka yang terdalam. Sound dari Brandalisme.

Di album ini the Brandals kembali dibantu oleh beberapa teman seperjuangan yang telah memberi dukungan tak terhingga. Ramondo Gascaro dan Awan Garnida dari Sore (juga sejawat dalam label Aksara records) memberi bantuan vokal latar serta sentuhan piano dan organ Hammond. Amar Ramadhan dari Maliq and D’Essentials kembali hadir dengan tiupan terompetnya di lagu ”Is It You Girl?”. Aghi Narottama (Ape On The Roof, LAIN) yang bertindak sebagai sound engineer dalam proses mixing & mastering juga menyumbangkan hentakan piano boogie di single petama ”100% Kontrol”. Nama David Tarigan pun menambah riuh repertoire kami di lagu ”City Boy” dengan gitar akustiknya.

Tak lupa, band asal Jakarta Timur ini juga berkolaborasi dengan seniman graffiti muda Jakarta, Darbotz, yang mendesain sampul album dengan ikon Cumi khasnya. Semua dukungan di atas menjadikan album ini sebagai perpajangan perjalanan kedewasaan yang telah dimulai pada Audio Imperialist (Flystation/Warner, 2005).

Formasi solid the Brandals: Rully, Bayu, Tonny, Doddy, dan Eka
DISCOGRAPHYw.aksararecords.com

Koil’s Blacklight Shines On

August 21st, 2008 by vhy-potter

Koil’s Blacklight Shines On

blacklightkover

Six years after Megaloblast, finally Koil is releasing a new (mini) album. And we got the honor to be the first to release the songs for download. It’s completely free for you to download, copy, distribute and so on. Remember, you hear it first from here.

We’re going to upload one song at a time, so you need to check out this page from time to time for the next song. Some hints are available on our mailing list.

Blacklight Shines On
Track Listings:
1. Kenyataan Dalam Dunia Fantasi 4:06
2. Semoga Kau Sembuh pt. II 7:58
3. Ajaran Moral Sesaat 4:52
4. Aku Lupa Aku Luka 4:31
5. Hanya Tinggal Kita Berdua 7:33
6. Sistem Kepemilikan 4:40
7. Nyanyikan Lagu Perang 4:59
8. Semoga Kau Sembuh pt. I 6:25
9. Dan Cinta Kita Terlupakan 5:49

Wenz from RS Indonesia already has some review on the album here.

Update 19/07: The second song is up for grabs.
Update 25/07: Third Song is up, Artworks available.
Update 31/07: Fourth Song is up, Artworks now Hi Res.
Update 07/08: Fifth Song.
Update 16/08: Sixth Song. More to come.
Update 30/08: Seventh Song.
Update 7/09: Eighth Song.
Update 13/09: Ninth Song. That’s it for now.

Artworks

insertlirik01insertlirik02insertlirik03
insertlirik04
insertlirik05insertlirik06

insertlirik07insertlirik08insertlirik09

Indonesian Rockers Set For Australia

August 21st, 2008 by vhy-potter

Indonesian Rockers Set For Australia

by Daniel Zugna - May 9 2007

http://www.undercover.com.au/News-Story.aspx?id=2065

Despite being one of the biggest countries in the world, Indonesia isn’t known for its rock credentials.

Set to change this preconception are the incredibly named The Super Insurgent Group Of Intemperance Talent (or, The SIGIT). Described as "West Java’s pre-eminent exponents of electric rock’n'roll boogaloo", the group head to Australia for the first time for a run of dates with rock heavyweights Beasts of Bourbon, Dallas Crane and 67 Special.

The debut album ‘Visible Idea Of Perfection’ is released locally in June through Caveman! and Reverberation.

The SIGIT Australian Tour Dates:

Friday 1 & Saturday 2 June @ Republic Bar, Hobart
supporting Dallas Crane

Sunday 3 June @ James Hotel, Launceston
supporting Dallas Crane

Wednesday 6 June @ The Troubadour, Brisbane
with special guests

Thursday 7 June @ The Zoo, Brisbane
supporting Dallas Crane and 67 Special

Friday 8 & Saturday 9 June @ Annandale Hotel, Sydney
supporting Dallas Crane and 67 Special

Sunday 10 June @ Hi Fi Bar, Melbourne
supporting Dallas Crane and 67 Special

Friday 15 June @ Governor Hindmarsh, Adelaide
supporting The Beasts of Bourbon

Sunday 17 June @ Metropolis, Fremantle
supporting The Beasts of Bourbon

Thurs 21 June @ Prince of Wales, Bunbury
supporting Dallas Crane

Fri 22 June @ 3 Bears Bar, Dunsborough
supporting Dallas Crane

Sat 23 June @ Rosemount, Perth
supporting Dallas Crane

Sun 24 June @ Mojo’s Bar, Fremantle
supporting Dallas Crane

Berita tersebut mengagetkan kami yang sebelumnya hanya diberitahukan oleh Helvi (FFWD Records) bahwa kami di tawari untuk manggung di Australia oleh label kami di sana (Caveman!), dengan syarat biaya Pesawat, Akomodasi dan Transportasi ditanggung sendiri sepenuhnya dari pihak band dan label (FFWD). Setahu kami rencana ini masih tentative karena biaya yang akan dikeluarkan sangat besar sekali. Eh, tau-tau sudah ada press releasenya di berbagai media internet Australia. Good news it is, tetapi berubah menjadi bad news ketika hari keberangkatan semakin mendekat, kami belum juga mendapatkan sponsor yang bersedia membantu biaya tur ini.

We consider this as a big big chance, and chance like this might not come to us twice… It’s yet another anxious period of our career.

Mohon doa dari kawan-kawan….

Cheers

p.s.
another related links :

www.yourgigs.com.au/artist/?85699
guides.news.com.au/adelaidenow/music/artist/?85699
www.yourgigs.com.au/artist/?8010
guides.news.com.au/adelaidenow/music/artist/?8010
www.themusic.com.au/im_m/eliezer_gig.php
www.accessallareas.net.au/data/EEZZVykAuVkvzpYVsK.php
www.timeoff.com.au/index1.php?area=News&pg=32
www.ravemagazine.com.au/component/option,com_frontpage/Itemid,1/
www.messandnoise.com/news/842946
www.undercover.com.au/News-Story.aspx?id=2012
www.ripitup.com.au/tourguide/
au.launch.yahoo.com/gig-guide/tours/?o=1
essentialadelaide.blog.com/music/
chaos.com/artist.asp?intArtistID=609421
www.jbhifionline.com.au/music/id/1026628

and so on…

The S.I.G.I.T Merch - Sold Out!!

August 21st, 2008 by vhy-potter

Photo Album The S.I.G.I.T. Merch - SOLD OUT!!!! Oct 9, ‘07 4:10 AM
for everyone

Limited T-Shirt (approx. 20 pcs left)
S, M dan L

Rp 70.000,00
(Sudah termasuk ongkos kirim)

Untuk pemesanan hubungi
Gino 081563591999

SOLD OUT!!!!
Mohon Maaf. Kaos ini sudah tidak tersedia lagi.

Limited T-Shirt (approx. 20 pcs left)
S, M dan L

Rp 70.000,00
(Sudah termasuk ongkos kirim)

Untuk pemesanan hubungi
Gino 081563591999

Untuk pemesanan silahkan transfer ke rekening BCA 7770483233, a.n. Gino Herryansyah. Bukti transfer mohon di-email ke thesigit@yahoo.com. T-shirt akan dikirimkan min. 1 minggu setelah Lebaran. Thanks

The S.I.G.I.T di Rolling Stone Private Party

August 21st, 2008 by vhy-potter

The S.I.G.I.T di Rolling Stone Private Party

Puas. Tadi malem akhirnya bisa nonton penampilan The S.I.G.I.T di Private Party nya majalah Rolling Stone Indonesia (RSI) yang sekaligus perayaan ulang tahun ke 3 majalah ini. Ini adalah kali pertama saya nonton acara yang sebenernya sudah diselenggarakan yang ke tiga kalinya oleh majalah ini, karena memang saya tidak pernah langganan majalah ini, hanya beli beberapa terbitan yang menarik saja. Jujur, the key driver buat hadir cumin gara2 ada nama The SIGIT sebagai salah satu performers. Karena belum juga sempet ngurusin tiket yang hanya bisa didapat kalo kita berlangganan RSI selama setahun (Rp. 357.000,-), sempet kalang kabut kemarin siang karena gak tahu bagaimana supaya malemnya bisa dateng dan mendapatkan majalah RSI edisi Mei 2008 karena memuat GIANT STEP dan SHARKMOVE.

Karena kepepet, pas menunggu jadwal presentasi ke World Bank kemarin siang (untung jadwal presentasi mulur 30 menit .. Alhamdulillah) saya gunakan ponsel saya nelpon ke mas Adib Hidayat yang juga member nya milis i-Rock! Oleh mas Adib, saya dibantu dengan menugaskan mas Nurwan (bagian Sirkulasi) menelpon saya dalam hitungan kurang dari 5 menit. Saya pun dapat konfirmasi bahwa mas Nurwan bisa menyediakan langganan 1 tahun plus tiket yang berlaku buat dua orang. JRENG! Memang orang2 RSI seperti mas Adib dan mas Nurwan ini problem solver lah .. bisa membantu temen yang kepepet dan kebelet mo nonton The SIGIT.

Tidak hanya itu saja, ternyata, sambutan mas Nurwan dan mas Adib sangat luar biasa. Mungkin bagi mereka suatu hal yang biasa, tapi saya bener2 merasa “”dilayani” dengan personal touch. Mulai dari turun mobil saja, saya langsung disambut mas Nurwan dan memandu langsung ke Registration Desk yang diawaki wanita2 muda cantik. Saya ditunggu oleh mas Nurwan sampe proses registrasi usai dan dipandu masuk ke area kantor majalah RSI yang kelihatan teduh ini. Setelah pintu masuk saya sempat menyapa growler dan produce andal Krisna J Sadrach, kemudian ditemukan dengan mas Adib (yang selama ini hanya saya kenal lewat email dan ponsel, gak pernah temu muka blas!). Terus saya dipandu ke area taman di belakang kantor RSI, dipersilakan menikmati hidangan makan dan minum yang disediakan. Karena udah kenyang abis buka shaum, saya langsung cari tempat strategis. Ketemu Eric dan Rustam i-Rock! dan juga mas Benny Soebardja dan Rama Soebardja putra bungsunya yang punya band Idealego.

Beberapa saat kemudian, pentas berukuran lumayan besar (gak besar sekali she) udah diisipenampilan pertama dari Andra and The Backbone. Biasa saja, karena memang saya gak begitu selera dengan musiknya. Saya lebih seneng liat Stevie B Item (anaknya Yopie Item) main metal dengan DEAD SQUAD bersama Prisa Rianzi dan kawan2. Tapi yawdahlah … karena memang saya gak begitu “in” dengan band pembuka bukan berarti terus jutek. Untung musiknya ada metal nya juga. Namun, gelagat sound system kurang bagus (banyak distorsi mengganggu) mulai tercium.

Tentu … yang saya tunggu hanya satu: The SIGIT meski saya juga rada sedikit “berharap” saya bisa menikmati Erwin Gutawa. Sebelum The SIGIT main, saya sms mas Nurwan dan mas Adib, minta no hp Rekti (vocalist, guitarist) The SIGIT karena Rekti ini sering banget nongol di blog ini. Tak lama kemudian, mas Adib sms balik nomer hp Rekti. Sungguh, saya salut sama mas Adib yang tengah sibuk, masih aja sempat menjawab sms saya. Thanks a lot mas.

Akhirnya .. yang ditunggu tampil juga. Biyuh penampilan The SIGIT memang lebih dinamis yang sekarang ini karena kelihatan Rekti yang menggunakan T-Shirt Mastodon beraksi atraktif. Permainan double guitar juga kadang ditampilkan sebagai interlude, meski gitaris yang satunya masih rada menahan diri dalam aksi panggungnya. Suara vocal dan gitar Rekti terdengar jernih, namun sayang gitaris yang satunya mengalami masalah dengan gitarnya yang sering cuit cuit mengalami gangguan sound yang kurang mendukung. Saya gak apal judul2 lagu yang dibawakan, namun ada “Black Amplifier” dibawakan juga. Mbak Didy yang ada di sebelah saya kecewa karena lagu kesukaannya “Horses” tidak dibawakan. Saya ambil beberapa foto dan video selama penampilan The SIGIT. Sayang, hanya dibatasi empat lagu sehingga rasanya masih kurang. Tapi gak masalah, sudah membuat saya puas secara keseluruhan terhadap penampilan The SIGIT.

Sebetulnya, yang paling menyenangkan adalah ngobrol dengan Rekti setelah mereka tampil. Setelah main, Rekti memang menelepon saya, menjawab 2 SMS yang sempat saya kirim sebelum naik panggung. Ternyata, Rekti ini orang humble banget dan eank diajak ngobrol. Yang saya salut, ternyata personil2 The SIGIT ini sebagian besar masih kuliah S2. Rekti ambil di Teknik Lingkungan ITB dan temen gitaris satunya ambil S2 di Arsitek ITB. Wah .. salut .. masih bisa membagi waktu. Siapa tahu one day The SIGIT rilis concept album dengan lirik bertema lingkungan? Yang jelas, mbak Didy (yang ikut ngobrol dan foto rame2 .. eh fotonya kirim ke saya dong mbak! Sayang HP ku low batt tadi malem) semangat banget karena beliau ini aktivis global warming juga.

Bagi saya sudah cukuplah ngobrol sama Rekti dan gak begitu peduli dengan apa yang terjadi di panggung saat kami ngobrol. Kayaknya ada lagu Harry Roesli dibawakan Erwin Gutawa dan juga saya sempat lihat Armand Gigi. Ndak penting lah .. sing penting bisa ngobrol sama The SIGIT (drummer dan bassist nya juga nimbrung tadi malam). Konon, menurut Rekti, The SIGIT insya Allah merilis EP dalam waktu dekat. Jreng! Pasti top lah!

Jakarta, 6 Mei 2008

LA INDIEFEST

August 21st, 2008 by vhy-potter

INDIEFEST

20 Agustus 2008 - 11:54

In Flames: Death Growl dari Swedia

Terbentuk oleh Jesper Strömblad di tahun 1990. Posisi awal band ini terdiri dari Jesper, Johan Larsson dan Ljungström Glenn. Pada tahun 1997 In Flames bergabung dengan Nulear Blast untuk album “The Jester Race” dan album tersebut mendapat sambutan yang cukup baik dan besar di Eropa & Jepang.

Setelah merekam album “Whoracle” pada tahun 1997 Johan dan Glenn memutuskan untuk meninggalkan band dan Peter Iwers (bass) bergabung. Niklas Engelin (Gardenian, Engel) sementara masih mengisi pada gitar. Dengan personil tersebut maka lahirlah album “Colony” yang direkam dan dirilis pada tahun 1999.  Album “Colony” membawa In Flames ke satu taraf band baru yang menjual habis albumnya di Eropa, USA, dan Jepang dengan waktu yang cepat. In Flames menjadi salah satu band yang paling besar dan populer di scene death metal dunia.

Album demi album terus diproduksi In Flames dari tahun ke tahun. Pada bulan Maret 2006 In Flames merekam sebuah album yang berjudul “Come Clarity”. Lagu “Take This Life” dari album tersebut menjadi bagian pada game teranyar didunia “Guitar Hero III”.

Di bulan September 2007 Inflames mulai masuk Studio IF, di Gothenburg, Swedia untuk merekam beberapa lagu, Album baru akhirnya direkam dan diproduseri oleh Daniel Bergstrand (vocal) dan Roberto Laghi (Bass, gitar & drum) dan di-mixing oleh Toby Wright (Metallica, Slayer, Ozzy Osbourne, Kiss, Motley Crue, dsb) kemudian di-mixing ulang oleh Stephen Marcussen di Marcussen Mastering studio di LA.

Dengan album barunya kini tidak diragukan lagi Inflames akan  mengambil satu peningkatan  arah yang sangat pantas sebagai band metal  terbesar didunia. Dan mulai bulan Juli 2008 lalu album terbaru “A Sense of Purpose” milik Inflames sudah segera rilis di Indonesia. [release/rad]