Brandalisme - The Brandals

The Brandals
Brandalisme
Aksara Records (2007)
6.9
Sebuah band rock yang tetap menyuarakan suara kaum urban, dengan segala kehidupan nya yang keras dan bercampur asap knalpot jalanan. Suara orang-orang kelelahan dalam menghadapi kerasanya hukum rimba perkotaan dimana yang kaya selalu menang sementara yang miskin masih saja berkutat dalam kebingungan mencari sesuap nasi hari ini.
Mendengarkan album rock (yang seharusnya) enerjik ini menipiskan batas antara pendewasaan, monotonitas, kebosanan dan kelelahan. Mereka menjadi seperti rocker-rocker kelelahan yang tertekan pekerjaan sehari-hari dan dikejar waktu jadwal rekaman sementara deadline kerjaan sampingan sudah memanggil.
Namun begitu dengan sisa-sisa energi yang terkuras itu, mereka tetap berusaha menghibur kita dengan anthem seperti ‘100% kontrol’ dan ‘Brokenheart Blues’ yang ringan dan mudah dicerna, dengan lirik-lirik penghiburan supaya tidak menunda-nunda dan patah hati.Lagu-lagu lainnya terus berusaha memberikan energi rock n roll kasar dengan sedikit sentuhan rockabilly dan usaha keagresifan punkrock.
Akhir kata, album ini untuk kaum urban yang kelelahan menghadapi kerasnya kehidupan ditengah himpitan bau keringat bis kota dan debu jalanan. Saya berharap energi mereka yang seperti akan habis itu segera kembali penuh jika menghibur kita lagi di panggung

Album ketiga ini akhirnya telah dirilis dan beredar di berbagai toko kaset dengan label Aksara Records. Berikut ini wawancara singkat dan cepat dengan Eka Annash sang vokalis.
1. Apa kabar The Brandals sekarang?
Baik. Lagi sibuk keliling promo media untuk full album ke-3 Brandalisme
2. Sewaktu review media menyatakan musik Brandals menjadi lebih dewasa. Menurut The Brandals sendiri, apa itu arti pendewasaan dalam bermusik?
Not giving any shit on what other people thought about you or your music.
3. Dengan musik kalian, apa sebenarnya yang kalian lawan dan memberontak
dari apa? dan sejauh ini dari pengamatan The Brandals bagaimana hasil perjuangan tersebut?
Berontak? Ngamuk? Marah2?..We over it, mate. Leave it up to the youngerbands that you guys at DRS so fond of…hehehe
4. Apa yang lagi ada di playlist kalian saat ini?
Suicide-s/t
Pussy Galore - Dial M for Motherfucker
Fariz RM - Selangkah ke Seberang
5. Ada rekomendasi lagu/band oke dari The Brandals untuk pembaca?
Frankie Teardrop -Suicide/ Mencharter Rocket - Duo Kribo/ Komboi - Iannis Xenakis
Lucky Annash (The youngest of the Annash family legacy. Check him out live. Hypnotic, jawdropping, profoundly poetic stuff. Also click to his myspace site : www.myspace.com/luckyannashmusic)
6. last word?
Whatever…
berikut ini preview video klip 100% Kontrol, sutradara oleh Andri Lemes
Foto=foto yang diambil saat show The Brandals di Lapas Tanggerang pada tanggal 22 November 2007 lalu. Semua foto di shoot oleh Soleh Solihun.



Album terbaru dari The Brandals ini akan berjudul “Brandalisme” diambil dari terminologi yang berasal dari meluasnya gerakan reaksi tolak balik yang menyikapi pesatnya invasi lingkungan ruang publik oleh logo korporat, iklan dan merek (brand). Tindakan termasuk merekonstruksi, mengatur kembali dan bahkan menghapus/menghancurkan logo korporasi tersebut yang terpampang di ruang publik (brand+vandalism). Untuk menuntut kembali identitas visual yang pada awalnya milik publik dan komunitasnya.
Lebih lanjutnya dapat artikel dari press release yang diterbitkan oleh Aksara Records label mereka.
“BRANDALISME”
Terminologi Brandalisme: berasal dari meluasnya gerakan reaksi tolak balik yang menyikapi pesatnya invasi lingkungan ruang publik oleh logo korporat, iklan dan merek (brand). Tindakan termasuk merekonstruksi, mengatur kembali dan bahkan menghapus/menghancurkan logo korporasi tersebut yang terpampang di ruang publik (brand+vandalism). Untuk menuntut kembali identitas visual yang pada awalnya milik publik dan komunitasnya.
The Brandals sebagai unit dalam bidang musik, beroperasi dengan prinsipil reaksi tolak balik yang sama terhadap system industri musik kita. Reaksi ini terekspresi pada tajuk album ke-tiganya, dimana mereka mengadopsi terminologi Brandalisme. Walaupun tidak mengedepankan isu politik pada agenda mereka, terminologi ini berlaku hanya untuk sudut artistik dan prakteknya, daripada statement politik itu sendiri. Tapi, the Brandals berharap untuk menyebarkan prinsip dan efeknya untuk pendengar setia mereka. Pesannya sangat jelas, untuk selalu merencanakan, bertindak dan mengevaluasi semua perbuatan secara independen tanpa intervensi besar dari pihak lain. Selalu mengatasi masalah dan resiko di tangan sendiri.
Terminasi kata ‘Brandalisme’ juga teraplikasi pada pengembangan dari musikalitasnya. The Brandals terus berevolusi sampai di titik dimana pada akhirnya mereka menemukan karakterisasi yang sangat spesifik dari sound The Brandals pada album kali ini. Perpaduan antara blues sways, punk rock stomps, dan rockabilly rolls adalah bukti akurat sejak debut album pertama. Tapi pada album ketiga ini the Brandals melebar ke teritori lain yang belum pernah dijamah sebelumnya. Elaborasi peleburan elemen lain yang bisa dirangkum sebagai ‘The Brandals sound’. Karenanya, album ini diberi judul Brandalisme.
Secara general yang membedakan album Brandalisme ini dengan yang sebelumnya adalah adanya kehadiran rasa tanggung jawab terhadap apa yang mereka berusaha ekspresikan dan bagi pada khalayak selama ini. Sebuah ciri khas kedewasaan yang terkesan klise tetapi memang tidak bisa dipungkiri. Semua ini hadir tanpa meninggalkan citra the Brandals yang selama ini telah terbangun. Pemberontakan atau perlawanan yang hadir tampak lebih composed, lebih dewasa. Seperti pemberontakan terhadap apatisme dan ingin membuat perubahan secara positif terhadap lingkungan. Mereka berusaha mengajak pendengarnya untuk lebih perduli dan sadar diri.
Sejak tahun 2005 lalu the Brandals diminta oleh yayasan AIDS, YAIDS, untuk menjadi corong mereka dengan melakukan kampanye demi kepekaan anak muda untuk penyakit tersebut. Pada tahun yang sama the Brandals juga diminta oleh organisasi internasional WWF (World Wildlife Fund) untuk menjadi duta organisasi yang memberikan pendanaan sosial ini. Hal tersebut juga menjadi semacam pengakuan yang signifikan terhadap sebuah band yang ternyata tak hanya prima dalam performa tetapi juga sanggup menjadi wakil untuk menyuarakan pesan-pesan penting kepada masyarakat urban, terutama kepada pemuda di tanah air.
Sejauh ini demikian lah yang ditawarkan oleh the Brandals. Sound yang mungkin akan diinterpretasi, kategorisasi dan direview sebagai album yang buruk atau bagus bagi pendengar (ataupun oleh media). Sejujurnya, untuk keuntungan mereka, hal terakhir yang mereka khawatirkan adalah kritik dan hal yang ada di atas. Inilah apa yang tercurah dari hati mereka yang terdalam. Sound dari Brandalisme.
Di album ini the Brandals kembali dibantu oleh beberapa teman seperjuangan yang telah memberi dukungan tak terhingga. Ramondo Gascaro dan Awan Garnida dari Sore (juga sejawat dalam label Aksara records) memberi bantuan vokal latar serta sentuhan piano dan organ Hammond. Amar Ramadhan dari Maliq and D’Essentials kembali hadir dengan tiupan terompetnya di lagu ”Is It You Girl?”. Aghi Narottama (Ape On The Roof, LAIN) yang bertindak sebagai sound engineer dalam proses mixing & mastering juga menyumbangkan hentakan piano boogie di single petama ”100% Kontrol”. Nama David Tarigan pun menambah riuh repertoire kami di lagu ”City Boy” dengan gitar akustiknya.
Tak lupa, band asal Jakarta Timur ini juga berkolaborasi dengan seniman graffiti muda Jakarta, Darbotz, yang mendesain sampul album dengan ikon Cumi khasnya. Semua dukungan di atas menjadikan album ini sebagai perpajangan perjalanan kedewasaan yang telah dimulai pada Audio Imperialist (Flystation/Warner, 2005).
Formasi solid the Brandals: Rully, Bayu, Tonny, Doddy, dan Eka
DISCOGRAPHYw.aksararecords.com
This entry was posted on Thursday, August 21st, 2008 at 10:31 pm and is filed under Uncategorized. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.